(Ponpes Darul Ulum Kepuhdoko Gelar Sholat Ghaib dan Penggalangan Dana)
Mitrajustice.id – Jombang – Embun pagi masih menempel di rumput lapangan depan Asrama Rusunawa Pondok Pesantren Darul Ulum Kepuhdoko, Tembelang, Jombang, ketika puluhan santri mulai berdatangan. Jumat, 5 Desember 2025, menjadi hari yang tak biasa bagi mereka. Di bawah naungan langit yang tampak teduh namun berat, para santri dari berbagai jenjang MI, MTs, SMK, hingga MAN 9 Jombang berkumpul dengan wajah yang lebih serius dari biasanya.

Pagi itu, Ponpes Kepuhdoko menggelar Sholat Ghaib berjamaah dan penggalangan dana sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan untuk para korban bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana besar itu telah menyisakan luka yang begitu dalam bagi jutaan saudara sebangsa. Dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), per 4 Desember 2025 tercatat 780 orang meninggal dunia dan 564 orang hilang. Data sebelumnya bahkan menunjukkan 593 meninggal, 468 hilang, lebih dari 2.600 luka-luka, dan sekitar 1,5 juta orang terdampak langsung. Estimasi total penduduk yang merasakan imbas bencana mencapai 3,3 juta jiwa, termasuk lebih dari 2,1 juta pengungsi yang terdata, sebagian besar berasal dari Aceh.
Di depan angka-angka besar yang dingin itu, para santri Jombang pagi ini menghadirkan sesuatu yang hangat: doa, empati, dan solidaritas.
Di Bawah Payung Langit Pesantren
Tepat pukul 08.00, suara komando dari panitia menggema. Barisan mulai rapi: para santri putra membentuk shaf panjang di sisi kanan lapangan, sementara shaf putri membentang di sisi kiri. Dari kejauhan, pemandangan itu seperti hamparan kain putih dan hijau yang bergerak serempak ketika takbir pertama dikumandangkan.
Ustadz H. Marzuki, M.Pd., berdiri tegak di depan jamaah sebagai imam. Dengan suara tenang, beliau memberikan pengarahan singkat sebelum sholat dimulai.
“Sholat ghaib ini kita lakukan untuk saudara-saudara kita yang wafat dalam musibah. Mereka jauh, bahkan sebagian belum ditemukan. Kita tidak bisa menyalati jenazah mereka secara langsung, tetapi doa kita bisa menjangkau sejauh yang tidak bisa dijangkau oleh langkah,” ujarnya pelan, namun jelas.
Beliau kemudian menegaskan bahwa sholat ghaib dilakukan sebagaimana sholat jenazah: tanpa ruku’, tanpa sujud, tanpa bacaan keras, dan dilakukan empat takbir. ”Pada takbir pertama jamaah membaca Al-Fatihah, pada takbir kedua membaca Shalawat Ibrahimiyyah, pada takbir ketiga membaca doa untuk mayit laki-laki maupun perempuan, dan pada takbir keempat ditutup dengan doa penutup untuk jenazah” terang Ustadz Marzuki.
Penjelasan itu mengalir bersama angin pagi, menyiapkan hati para santri yang tampak khusyuk, terlihat sholat pun dimulai “Allāhu Akbar.” Takbir pertama terdengar serempak, bergema memantul di dinding dan pepohonan sekitar Rusunawa. Ratusan tangan yang terangkat, kemudian bersedekap rapi di dada, membentuk pemandangan yang menggetarkan bagi siapa pun yang menyaksikan.
Santri-santri kecil dari MI berdiri berdekatan dengan kakak-kakak mereka dari MAN 9 Jombang. Tak sedikit dari mereka yang baru pertama kali mengikuti sholat ghaib. Namun di balik kepolosan wajah mereka, ada tekad yang besar: mereka ingin melakukan sesuatu untuk saudara-saudara di Aceh dan Sumatera yang sedang berjuang melewati hari-hari paling berat dalam hidup mereka.
Di setiap bacaan, ada harapan yang diselipkan. Di setiap takbir, ada nama-nama yang mungkin tak pernah mereka kenal, namun mereka cintai karena persaudaraan dalam iman dan kemanusiaan. Suasana hening. Begitu hening hingga seolah-olah waktu turut menundukkan kepala. Saat salam terakhir diucapkan, beberapa guru terlihat meneteskan air mata. Kehilangan ratusan nyawa bukan sekadar angka; itu adalah ayah, ibu, anak, guru, dan saudara dari seseorang. Para santri tahu itu. Mereka sedang mendoakan manusia seperti diri mereka sendiri.
Kotak Kardus Berjalan: Mengajarkan Kepedulian Sejak Dini
Usai sholat ghaib, para pengurus pesantren segera mengangkat beberapa kotak kardus besar. Kotak-kotak itu berjalan dari shaf depan ke belakang, dari barisan putra ke barisan putri. Santri-santri memasukkan uang sekadarnya, ada yang menyelipkan uang jajan harian, ada yang menaruh uang hasil menabung beberapa minggu, ada pula yang memasukkan lebih dari yang semestinya karena dorongan empati. Beberapa santri kecil dari MI terlihat memegang uang receh yang mereka kumpulkan sejak pagi. “Untuk Aceh, Ustadz,” kata seorang santri kecil dengan wajah sungguh-sungguh. Pemandangan itu membuat banyak guru tersenyum haru.
Ketua Yayasan, KH. Musta’in Hasan, M.Hum., yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan pentingnya aksi kemanusiaan seperti ini.“Sebagai sesama muslim yang berada di tanah air yang sama, kita tidak boleh menutup mata. Saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatera sedang dalam kondisi sangat memprihatinkan. Kita ajak anak-anak sholat ghaib bersama, lalu kita lakukan penggalangan dana melalui kotak berjalan. Semua bisa ikut membantu: guru, pegawai, dan seluruh keluarga besar pesantren,” ujar beliau.
Beliau memastikan bahwa seluruh dana yang terkumpul akan segera disalurkan melalui rekening resmi bencana nasional.
Lebih dari Sekadar Seremonial
Bagi Ponpes Darul Ulum Kepuhdoko, kegiatan ini bukan hanya rutinitas dan bukan sekadar bentuk respons sesaat terhadap bencana. Ini adalah bagian dari pendidikan karakter yang ingin mereka tanamkan kepada seluruh santri: kasih sayang, empati, solidaritas sosial, dan kepekaan terhadap penderitaan sesama.
“Kami ingin para santri tumbuh dengan jiwa sosial. Ketika kelak mereka hidup di tengah masyarakat, mereka sudah terbiasa peduli. Empati itu harus diajarkan sejak dini,” tambah KH. Musta’in.
Guru-guru juga mengamini hal itu. Mereka berharap generasi muda pesantren dapat tumbuh dengan pemahaman bahwa ibadah tidak hanya soal hubungan dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan manusia. Sholat ghaib dan penggalangan dana ini menjadi salah satu wujud nyata dari nilai tersebut.
Ditutup dengan Tahlil: Doa yang Mengalir Tanpa Batas
Setelah seluruh rangkaian sholat dan donasi selesai, acara ditutup dengan pembacaan tahlil. Suara “Lā ilāha illāllāh” yang dilantunkan ribuan santri membuat suasana semakin syahdu, seolah menyatukan doa dari Jombang dengan duka yang tengah menggelayuti jutaan orang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Setiap lafaz menjadi sebuah harapan: semoga korban yang meninggal mendapat tempat terbaik di sisi Allah, semoga yang hilang segera ditemukan, semoga para pengungsi diberi ketabahan, dan semoga daerah yang porak-poranda segera pulih.
Ketika acara berakhir, para santri kembali ke asrama dan kelas masing-masing. Namun ada sesuatu yang berbeda dalam langkah mereka. Ada kepedulian yang tumbuh, ada pelajaran kehidupan yang mereka bawa pulang hari itu.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan Ponpes Darul Ulum Kepuhdoko bukan hanya aksi kemanusiaan, tetapi juga pernyataan kasih sayang: bahwa duka Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat juga adalah duka mereka. Dan bahwa jarak ribuan kilometer pun tak mampu meredam suara doa yang tulus. Dari sebuah lapangan kecil di Jombang, ribuan tangan kecil telah terangkat, dan ribuan hati telah terpaut pada satu kebaikan: solidaritas untuk sesama manusia. (Diana)








